Bismillahirramanirrahim
Salam Perjuangan,
semoga keselamatan menyertai kita semua.
Apa kabar Citizen?
Sekian lama Saya
tidak muncul di jagad persilatan para Blogger. Saya bahkan sudah hampir lupa
kalau Saya punya Personal Blog, Hehehe tapi jangan khawatir meskipun begitu
Saya tidak akan terlepas dari aktivitas-aktivitas pengawalan perubahan. Kita
insan cita diciptakan dengan potensi kreatif sehingga kita dapat menggunakan
berbagai cara dalam mencapai sebuah tujuan selama itu tidak menyalahi
pedoman-pedoman yang berlaku. Jadi, mengawal perubahan itu bukan hanya melalui
Blog saja. Betul?!
Berhubung Saya lagi
online maka Saya ingin berbagi pandangan tentang kondisi yang lagi hangat
diperbincangkan hari ini. Sesuai dengan judul tulisan Saya ini "Resuffle
Menteri yang Bekerja di Zona Nyaman", Saya ingin membicarakan tentang
fenomena pada pemerintah hari ini.
Ya kepemerintahan
JOKOWI-JK dimana JOKO WIDODO yang sedang duduk di kursi kepresidenan sedang
hangat diberitakan terkait issu resuffle kabinetnya oleh media-media skala
nasional. Banyak pro dan kontra dari beberapa negarawan menyikapi issu
tersebut. Hal ini pun membuat Saya tertarik untuk memperbiancangkan issu
tersebut bersama sahabat-sahabat Saya sehingga akhirnya Saya ingin menuliskan
suatu pandangan untuk Saya bagi kepada para Citizen.
Resuffle kabinet
adalah suatu penataan kembali terhadap struktural kepemerintahan dimana
menteri-menteri yang dinilai memiliki hasil kinerja yang kurang memusakan
bahkan tidak mampu mencapai target keberhasilan di masing-masing bidang
kerjanya akan dicopot dan digantikan sebagai menteri oleh orang yang diyakini
mampu menyelesaikan apa yang tidak mampu dilakukan oleh menteri sebelumnya.
Resuffle kabinet
merupakan hak progratif Presiden Joko Widodo. Namun melakukan resuffle kabinet
pada situasi hari ini dianggap kurang tepat oleh banyak negarawan. Ada yang
beranggapan bahwa melakukan pergantian menteri di akhir-akhir masa jabatan
presiden kurang efektif karena waktu yang dimiliki oleh menteri pengganti dapat
terbilang singkat untuk melaksanakan pembaharuan. Ada juga yang melihat
resuffle kabinet yang dilakukan oleh Presiden Jokowi sarat akan kepentingan
politik dimana pertarungan pilkada DKI Jakarta banyak menyisakan kerugian bagi
internal kubu partai Jokowi sendiri.
Kalau saya sendiri
melihatnya banyak hal yang harus diperhatikan oleh Pak Joko Widodo sebelum
mengambil keputusan untuk melakukan resuffle kabinetnya atau tidak. Terutama
pada aspek-aspek yang bersinggungan langsung dengan kepentingan-kepentingan
yang pro rakyat, bukan malah karena faktor keuntungan politis partai oleh dia
yang sedang memegang kursi kekuasaan. Karena pada dasarnya pemerintah hadir
tidak lain untuk menjaga arah gerak negara sehingga setiap insan yang menjadi
warga negara di dalamnya dapat menjaga keberlangsungan hidupnya yaitu rakyat
Indonesia.
Apakah Presiden
Jokowi akan melakukan resuffle kabinet atau tidak itu merupakan pilihan yang
hanya dimiliki oleh presiden sendiri. Namun Saya sangat setuju dengan
dilakukannya resuffle kabinet apabila Presiden Joko Widodo memperhatikan
kinerja-kinerja para menteri-meteri yang kurang berprestasi. Menteri-menteri
yang hanya sekedar menyandang jabatan sebagai menteri tetapi tidak menunjukan
perubahan yang signifikan selama menjabat harusnya dicopot saja. Sebagai
menteri harus menunjukkan kinerja, tidak boleh hanya sekedar bekerja di zona
nyaman. Rakyat memiliki banyak tuntutan yang harus dipenuhi, dan itulah resiko
menjadi menteri.
Bagaimana menurut
Citizen?
Saya kira memang
banyak perbedaan pendapat di antara kita, namun inilah pendapat dan pesan saya
kali ini. Intinya jangan berani-berani menjadi menteri kalau hanya untuk
mencari kenyamanan. Betul?!
Saya harap apa yang
saya tuliskan disini dapat dimaknai dengan baik sehingga dapat bermanfaat bagi
para pembaca sekalian.
Sekian untuk tulisan
kali ini, tetaplah berada di garis-garis perjuangan.
Yakin Usaha Sampai.
