Saturday, October 27, 2018

Merawat Sumpah Pemuda, Jangan Sampai Hanya Sekedar Seremonial!



Hari ini 28 Oktober 2018 merupakan peringatan Hari Sumpah Pemuda Indonesia. Negara dan penduduk Indonesia sedang beramai-ramai mengacarakan bagaimana agar ingatan tentang sumpah pemuda ini tetap terawat.

Ada yang melakukan dengan menggelar diskusi publik, ada yang dengan nonton bareng, ada yang dengan pagelaran seni dan banyak lagi yang dengan menggunakan media sosialnya masing-masing untuk memasang kata-kata atau e-pamflet sebagai status update di hari sumpah pemuda. Semua itu mereka lakukan untuk menjemput momentum tanggal merah ini.

Tentu kita sebagai pemuda yang mencintai bangsa ini harus benar-benar memaknai peristiwa dibalik ditetapkanya sebuah simbol untuk mengingat menggunakan 1 hari libur nasional pada tanggal 28 oktober ini. Jika ada yang baru memasuki awal usia berstatus pemuda, mari kita mewajibkan diri untuk kembali membuka lembar-lembar sejarah sebagai mana negara kita mewajibkan kita mengingat peristiwa ini di setiap tanggal 28 oktober.

Tetapi saat ini seberapa banyak anak muda yang benar-benar memahami alur peristiwa sejarah itu. Beberapa anak muda dalam temu diskusi saya hanya dapat menggambarkan peristiwa ini bahwa pada tanggal yang sama sekelompok pemuda pernah mengikrarkan sumpah untuk bersatu. Beberapa lagi ada yang bisa menjelaskan bagaimana latar belakang dan peristiwa lanjutan dari sumpah pemuda itu yang kebetulan mereka memang terdaftar sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Dan beberapa lagi hanya menggambarkan hari sumpah pemuda itu sebagai hari libur nasional semata yang harus dinikmati sesenang-senangnya

Jika kita merefleksikan berbagai cara yang dilakukan kelompok-kelompok muda saat ini untuk memperingati hari ini, sebuah pertanyaan akan muncul. Apakah kita hanya akan menanamkan dan menerapkan nilai-nilai kepemudaan dalam diri dan menjadi pemuda yang bersatu untuk mencintai bangsa dan negara ini hanya pada setiap tanggal 28 oktober?

Sebenarnya saya ingin menyampaikan dan menekankan kepada kawan-kawan diskusi saya sekalian bahwa peringatan ini jangan sampai hanya dijadikan sebagai ajang seremonial dalam rangka memperpanjang ingatan kita belaka tentang kejadian di masa 90 tahun silam.

Kita sebagai manusia muda yang secara psikologis memiliki karakteristik mental yang sama dengan mereka yang pernah mengikrarkan sumpah pemuda itu harus benar-benar memaknai semangat yang ada di dalamnya, harus benar-benar menjadi anak muda yang sama seperti anak muda mengikrarkan sumpah itu. Sama dalam hal apa? Dalam hal INTEGRITAS. Kita semestinya memperkuat integritas kita untuk tetap melanjutkan sumpah itu sebagaimana mereka yang terukir dalam sejarah melakukannya hingga datangnya kemerdekaan yang dicita-citakan saat itu.

Hari ini kita banyak ditimpa krisis moral pada pemuda yang dipengaruh oleh kedatangan era globalisasi yang dilandasi oleh arus informasi yang bergerak begitu cepat yang disebabkan oleh perkembangan teknologi jaringan internet dan media komunikasi elektronik.

Arus informasi yang kini mengalir dengan kecepatan jutaan byte per detik tidak sempat dibendung oleh kemajuan daya nalar kritis yang justru semakin merosot. IQ masyarakat Indonesia dinyatakan semakin menurun beberapa poin disetiap ada pejabat pemerintah yang berbicara di depan publik. Itu kata seorang pengamat kritis bernama Rocky Gerung.

Krisis moral pada pemuda ini sangat bertentangan dengan nilai moral yang dimiliki oleh pemuda 90 tahun silam. Jika mau dibandingkan secara infrastruktur yang ada sekarang dengan yang dulu, kita bisa menggambarkan masa 90 tahun silam itu masih sangat terbelakang dan terbatas. Tetapi jika dipikir-pikir ulang, kenapa malah mereka dulu bisa begitu maju dalam berpikir dan sesemangat itu untuk memperjuangkan cita-cita bangsa. Kita semestinya jika saat ini memiliki pemikiran maju dan semangat seperti mereka, kita tentu bisa mencapai cita-cita beratus-ratus kali lipat dari mereka dengan waktu yang beratus-ratus kali lebih cepat.

Jadi kita sebaiknya memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Krisis moral itu sebaiknya kita perbaiki secepatnya. Secepat kata 'sekarang' kata 'saat ini' tanpa kata 'menunggu' tanpa kata 'nanti'. Seintens kata 'setiap saat' kata 'berkelanjutan' yang jauh dari sekedar 'seremonial', jauh dari sekedar 'momentuman'.

Bagaimana caranya memulainya? Kita mulai dengan membangun integritas diri.
Bagaimana caranya mulai berintgritas? Kita mulai dengan aktif BERLITERASI.
Mari kita rawat semangat pemuda yang pernah mengunjuk dirinya dengan bersumpah, mari kita lakukan dengan cara kita masing dengan tetap mengunjukkan integritas diri. Saat ini jua!!!


Makassar, 28 Oktober 2018
Agung Din Eka Hidayat
#Adhesivisme