Agent of change.
Titik terberat dalam membawa peran sebagai mahasiswa terletak pada fungsinya
sebagai agen perubahan. Ketika Anda telah tersematkan status mahasiswa maka
saat itu pula Anda harus siap untuk dipersalahkan atas adanya kondisi-kondisi
buruk di masyarakat yang cenderung stagnan dan tidak berubah.
Penderitaan-penderitaan yang terjadi di masyarakat akan menjadi tolak ukur
kualitas mahasiswa yang tinggal di lingkungan masyarakat itu.
Seorang agen
perubahan memerlukan kualitas yang dibutuhkan oleh lingkungan yang inginkan
perubahan itu. Adalah sebuah kepastian bagi masyarakat untuk keluar dari
penderitaan yang dialaminya. Masyarakat ingin mendapatkan perubahan terhadap kondisi yang menimpanya. Meskipun
bukan satu-satunya tetapi mahasiswa tetaplah harus bertanggungjawab untuk
menstimulasi perubahan pada masyarakat di lingkungannya itu.
Untuk mendapatkan
kualitas itu, seorang mahasiswa harus terbiasa untuk menempa diri di kampus
melalui berbagai metode yang salah satunya adalah kajian. Besar kecilnya
perubahan yang tercipta sangat dipengaruhi oleh kualitas mahasiswa.
Meningkatnya penderitaan masyarakat di suatu lingkungan adalah nilai yang
paling jelas dari bobroknya kualitas mahasiswa di lingkungan itu.
Kajian merupakan
alat untuk memperluas wawasan yang bisa menjadi landasan gerakan-gerakan
perubahan. Fenomena kajian hari ini terlihat pada tren negatif. Stigma muncul
kepada mahasiswa mengikuti sebuah kajian sehingga banyak yang menghindari
aktivitas-aktivitas kajian. Bahkan sangat banyak mahasiswa hari ini yang diajak
secara langsung pun rata-rata langsung berpikiran negatif lalu mencari alasan bahwa memiliki kesibukan yang lebih penting daripada mengikuti kajian itu.
Penghindaran oleh
mahasiswa ini adalah kesalahan pengurus organisasi yang payah dalam memanagemen
aktivitas kajian. Itu kesimpulan yang muncul dalam internal kebanyakan
organisasi dalam mempertahankan aktivitas kajian sehingga solusi yang muncul
sebagai tindak lanjut untuk memperbaiki keadaan adalah aktivitas kajian harus
dibuat semenarik mungkin sesuai selera mahasiswa itu. Oh saya bukan seperti itu
cara melihat pokok permasalahannya.
Saya melihat ini
adalah kekeliruan dalam memandang permasalahan bagi internal organisasi itu.
Mahasiswa sekarang ini menghindar bukan karena bosan dengan kajian itu sehingga
internal organisasi harus membuat kajian dengan metode yang lebih menarik.
Contohnya seperti yang awalnya melingkar biasa dalam lingkungan kampus harus
diganti menjadi dalam bentuk camp di luar kampus. Justru lebih rendah dari itu,
mereka tidak pernah mencapai kualitas bosan karena mahasiswa yang bosan adalah
mahasiswa yang rajin kajian tetapi telah jenuh dengan isi dan sensasi dari
kajian itu. Jadi jangankan bosan, mencoba ijkut saja belum, apalagi mau bosan.
Fenomenanya adalah
mahasiswa kini tidak punya semangat untuk kajian, walau bagaimana pun
menariknya desain cover dari pamflet kajian atau bentuk metode pelaksanaan
kajiannya. Ya sudah banyak bukti kajian yang pesertanya sedikit meski telah
dibuat dalam metode yang sangat menarik. Bahkan walau sedang dalam waktu luang
dan meski kebetulan berada di lokasi tepat kajian itu dilaksanakan, kebanyakan mahasiswa itu hanya melewatkan dan enggan singgah untuk sekedar mengisi waktu luang.
Justru lebih banyak yang berpikir bahwa waktu luang harus diisi sebisa mungkin untuk bermain game online.
Sebenaranya walau
bagaimana pun metode pelaksanaan kajian itu tetaplah ia bisa menjadi ruang
yang menambah wawasan atau memperkuat kerangka berpikir seorang mahasiswa tanpa
harus sengaja dibuat menarik. Saya pun sering pergi meski jaraknya jauh untuk
mengikuti sebuah kajian bukan karena dipengaruhi oleh tampilan cover pamflet
atau pun bentuk kajiannya. Saya pergi ke kajian itu karena sebuah tujuan yang
kuat dan dalam. Dan ini bersifat personal, yaitu tergantung visi misi pribadi
dan kebutuhan saya.
Ya, jadi bukan
salah oranisasi dalam memanajemen aktivitas kajian yang membuat mahasiswa malas
untuk ikut kajian. Mahasiswa sekarang mengalami krisis kesadaran diri.
Pengaruh-pengaruh dari sifat dan cara berpikir individualis menggerogoti semangat
mereka dalam kajian. Mereka walaupun mengetahui dan melihat langsung bahwa
banyak penderitaan yang terjadi dalam masyarakat tetap akan bersikap naif dan
seolah-olah dirinya tidak ada beban mengenai hal itu. Yang pada akhirnya ketika
dituntut secara fungsi sosial karena statusnya sebagai mahasiswa untuk
menciptakan perubahan, maka akan dijawab dengan apa yang bisa saya lakukan?.
Kita harus sadar
tentang fenomena ini bahwa kita harus kembali pada dasar. Untuk membangkitkan
kembali alasan seorang mahasiswa mengikuti kajian. Membangkitkan kesadaran dirinya sebagai mahasiswa yang berfungsi sebagai agent of change. Mengingatkan untuk harus
mempunyai kualitas dalam fungsi itu. Kita harus mulai lagi dari awal. Kita telah
mengalami kemunduran.
Keren tulisannya bung....
ReplyDeleteKata malas sebenarnya hanya pelebelan dari simpulan personal yang kita buat dari satu sudut pandang yaitu dari sudut pandang kita sebagai penulis tanpa sebelumnya menyelami kehidupan objek tulisan kita, dalam hal ini mahasiswa. Bukan perkara malas atau rajin, metode menarik atau kurang menarik, sekadar duduk melingkar atau camping, sebab semua itu hanya menyangkut selera. Lebih dari itu, ada hal yang lebih fundamental yaitu tentang "apa yang dibutuhkan dan apa yang ditawarkan". Tidak mengikuti kajian di lembaga A bukan berarti mereka malas, bisa saja mereka kajian ditempat lain karena merasa apa yang mereka cari apa yang mereka butuhkan ada di lembaga tersebut. Atau bisa saja mereka memilih mengkaji dirumah saja, bukankah semua itu mengarah pada perluasan wawasan dan peningkatan kualitas diri sebagai mahasiswa? terlebih setiap orang memiliki cara dan pemaknaan tersendiri tentang memberi perubahan dalam kehidupan masyarakat. Jadi intinya orientasi, tujuan dan kebutuhanlah yang berbeda, bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah sebab pada dasarnya kedua2nya benar menurut persepsi mereka masing-masing.
hehe....maaf komennya kepanjangan, wkwkwk