Friday, January 29, 2021

Kopi Pahit atau Kopi Asam?

Belakangan ini perhatian saya disibukkan oleh kesadaran suatu cita rasa kopi yang akhirnya bisa ku kenali. 

Akhirnya! saya menyadarinya.  

Ya.., memang barangkali agak telat untuk seorang manusia peminum kopi di era pasca posmodern ini. 

Meski awalnya agak menyesal atas keterlambatan ini, tetapi perasaan beruntung saya atas kesadaran rasa kopi ini cukup bisa meleraikanku lepas dari rasa sesal kebutaan pada eksistensi jati diri kopi. 

Rasa-rasanya saya ingin memulai lagi dari nol untuk menjalani hidup bersama kopi.

Kini menikmati kopi seraya menjalankan hidup itu seperti memiliki kekuatan baru untuk mengisi ruang kebermaknaan hidup hingga ke tingkat skala mikro kehidupan.

Dapatkah kau juga merasakan kopi dengan keadaan sadar yang ku temukan? Cobalah kawan!

Thursday, May 30, 2019

Mengapa Mudik Kali Ini Tidaklah Mudah?


Alhamdulillah kawan-kawanku sudah bersiap2 untuk mudik lebaran pada pekan ini.

Beberapa orang akhirnya merasa haru memastikan diri bisa bertemu keluarga besar di kampung. Beruntung juga apabila bisa sekali dalam setahun.
Beberapa orang lainnya masih sedang berusaha. Ada yang berusaha sambil mengeluh dan ada juga usaha yang sambil menahan keluhannya. Bukan karena tidak diberi kesempatan oleh lingkungan untuk cuti atau libur, tetapi karena keterbatasan akses transportasi,
Keterbatasan ini aAkibat dari hukum pasar yg menjadikan akses transportasi menjadi begitu tak terjangkau oleh konsumer. Permintaan naik maka harga naik, kan?! tetapi seharusnya hal itu tidak terjadi karena infrastruktur yg telah banyak dibangun yang menjadikan barang/jasa menjadi tidak langka atau mudah didapatkan.

Saya kira hari ini pemerintah telah banyak membangun infrastruktur dimana2. .. yang lebih banyak merupakan infrastruktur transportasi. Semakin banyak infrakstrukturnya bukannya aksesnya akan semakin mudah kan!? kenapa malah semakin sulit dijangkau.
Hukum pasar kan bilang kalau barangnya langka, maka harganya akan naik. Skrg infrastrukturnya banyak tapi harga malah makin naik.
Barangkali pada momen ritual mudik ini, pemerintah sengaja mau ambil kesemepatan dari naiknya permintaan, maka harga bisa dinaikkan. Dari naiknya harga maka meningkatlah keuntungan yang akan berbanding lurus pada meningkatnya penarikan pajak usaha yang akhirnya dapat meringankan upaya melunasi utang negara. Kan udah hampir jatuh tempo.

Gitu ya?!
Atau memang pemerintah yang tidak mampu mengendalikan kondisi agar rakyat tetap menikmati hidup yang hanya sementara ini. 😌

Sunday, January 13, 2019

Mahasiswa Malas Kajian di Perkumpulan Organisasi, Apakah Kesalahan Organisasinya?


Agent of change. Titik terberat dalam membawa peran sebagai mahasiswa terletak pada fungsinya sebagai agen perubahan. Ketika Anda telah tersematkan status mahasiswa maka saat itu pula Anda harus siap untuk dipersalahkan atas adanya kondisi-kondisi buruk di masyarakat yang cenderung stagnan dan tidak berubah. Penderitaan-penderitaan yang terjadi di masyarakat akan menjadi tolak ukur kualitas mahasiswa yang tinggal di lingkungan masyarakat itu.

Seorang agen perubahan memerlukan kualitas yang dibutuhkan oleh lingkungan yang inginkan perubahan itu. Adalah sebuah kepastian bagi masyarakat untuk keluar dari penderitaan yang dialaminya. Masyarakat ingin mendapatkan perubahan terhadap kondisi yang menimpanya. Meskipun bukan satu-satunya tetapi mahasiswa tetaplah harus bertanggungjawab untuk menstimulasi perubahan pada masyarakat di lingkungannya itu.

Untuk mendapatkan kualitas itu, seorang mahasiswa harus terbiasa untuk menempa diri di kampus melalui berbagai metode yang salah satunya adalah kajian. Besar kecilnya perubahan yang tercipta sangat dipengaruhi oleh kualitas mahasiswa. Meningkatnya penderitaan masyarakat di suatu lingkungan adalah nilai yang paling jelas dari bobroknya kualitas mahasiswa di lingkungan itu.

Kajian merupakan alat untuk memperluas wawasan yang bisa menjadi landasan gerakan-gerakan perubahan. Fenomena kajian hari ini terlihat pada tren negatif. Stigma muncul kepada mahasiswa mengikuti sebuah kajian sehingga banyak yang menghindari aktivitas-aktivitas kajian. Bahkan sangat banyak mahasiswa hari ini yang diajak secara langsung pun rata-rata langsung berpikiran negatif lalu mencari alasan bahwa memiliki kesibukan yang lebih penting daripada mengikuti kajian itu.

Penghindaran oleh mahasiswa ini adalah kesalahan pengurus organisasi yang payah dalam memanagemen aktivitas kajian. Itu kesimpulan yang muncul dalam internal kebanyakan organisasi dalam mempertahankan aktivitas kajian sehingga solusi yang muncul sebagai tindak lanjut untuk memperbaiki keadaan adalah aktivitas kajian harus dibuat semenarik mungkin sesuai selera mahasiswa itu. Oh saya bukan seperti itu cara melihat pokok permasalahannya.

Saya melihat ini adalah kekeliruan dalam memandang permasalahan bagi internal organisasi itu. Mahasiswa sekarang ini menghindar bukan karena bosan dengan kajian itu sehingga internal organisasi harus membuat kajian dengan metode yang lebih menarik. Contohnya seperti yang awalnya melingkar biasa dalam lingkungan kampus harus diganti menjadi dalam bentuk camp di luar kampus. Justru lebih rendah dari itu, mereka tidak pernah mencapai kualitas bosan karena mahasiswa yang bosan adalah mahasiswa yang rajin kajian tetapi telah jenuh dengan isi dan sensasi dari kajian itu. Jadi jangankan bosan, mencoba ijkut saja belum, apalagi mau bosan.

Fenomenanya adalah mahasiswa kini tidak punya semangat untuk kajian, walau bagaimana pun menariknya desain cover dari pamflet kajian atau bentuk metode pelaksanaan kajiannya. Ya sudah banyak bukti kajian yang pesertanya sedikit meski telah dibuat dalam metode yang sangat menarik. Bahkan walau sedang dalam waktu luang dan meski kebetulan berada di lokasi tepat kajian itu dilaksanakan, kebanyakan mahasiswa itu hanya melewatkan dan enggan singgah untuk sekedar mengisi waktu luang. Justru lebih banyak yang berpikir bahwa waktu luang harus diisi sebisa mungkin untuk bermain game online.

Sebenaranya walau bagaimana pun metode pelaksanaan kajian itu tetaplah ia bisa menjadi ruang yang menambah wawasan atau memperkuat kerangka berpikir seorang mahasiswa tanpa harus sengaja dibuat menarik. Saya pun sering pergi meski jaraknya jauh untuk mengikuti sebuah kajian bukan karena dipengaruhi oleh tampilan cover pamflet atau pun bentuk kajiannya. Saya pergi ke kajian itu karena sebuah tujuan yang kuat dan dalam. Dan ini bersifat personal, yaitu tergantung visi misi pribadi dan kebutuhan saya.

Ya, jadi bukan salah oranisasi dalam memanajemen aktivitas kajian yang membuat mahasiswa malas untuk ikut kajian. Mahasiswa sekarang mengalami krisis kesadaran diri. Pengaruh-pengaruh dari sifat dan cara berpikir individualis menggerogoti semangat mereka dalam kajian. Mereka walaupun mengetahui dan melihat langsung bahwa banyak penderitaan yang terjadi dalam masyarakat tetap akan bersikap naif dan seolah-olah dirinya tidak ada beban mengenai hal itu. Yang pada akhirnya ketika dituntut secara fungsi sosial karena statusnya sebagai mahasiswa untuk menciptakan perubahan, maka akan dijawab dengan apa yang bisa saya lakukan?.

Kita harus sadar tentang fenomena ini bahwa kita harus kembali pada dasar. Untuk membangkitkan kembali alasan seorang mahasiswa mengikuti kajian. Membangkitkan kesadaran dirinya sebagai mahasiswa yang berfungsi sebagai agent of change. Mengingatkan untuk harus mempunyai kualitas dalam fungsi itu. Kita harus mulai lagi dari awal. Kita telah mengalami kemunduran.

Friday, December 21, 2018

Wednesday, December 12, 2018

Mengapa Harus Menerapkan Pendidikan Anti Korupsi di Semua Jenjang Pendidikan?

https://ristekdikti.go.id/kabar/pendidikan-anti-korupsi-akan-diterapkan-di-semua-jenjang-pendidikan-2/#Ec0XVJJpvSSXqVPC.99

Sebenarnya kita tidak perlu menerapkan penekanan pola-pola pendidikan moral tentang anti korupsi di semua jenjang pendidikan karena kalau saya mengkaji inti sari dari KI 1 dan KI 2 itu sudah bisa dibayangkan output dari pendidikan kita itu sudah bisa menghasilkan manusia bermoral nabi.

Saya malah melihat kebijakan ini hanya memperjelas kegagalan pemimpin-pemimpin pemerintahan memenuhi salah satu aspek pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam triloka nya tentang Ing Ngarso Sung Tulada yaitu menjadi contoh di depan sana.

Kau tak bisa terus-terus memberi bimbingan tentang korupsi itu perbuatan yang tidak baik apabila di depan sana kau mencontohkan yang lain.

Di sisi lain, saya lihat hal ini menjadi tersorot masuk ke sistem pendidikan formal karena pendidikan informal yang alami sudah mulai dimanipulasi sehingga tidak lagi menjadi begitu berfungsi.

Pendidikan informal yang saya maksud bukanlah untuk anak sekolahan tetapi untuk para pemangku jabatan.

Pendidikan informal ini berisi bimbingan bahkan teguran moral kepada penguasa ketika dia menunjukkan perilaku tak yang tak beres terutama bila menimbulkan penderitaan di tubuh masyarakat.

Pendidikan informal ini adalah aktivitas kritik terbuka oleh mahasiswa atau akademis lainnya (professor) yang bahasa lapangannya disebut demonstrasi.

Tentang pendidikan anti korupsi di semua jenjang pendidikan, sebaiknya yang harus dididik adalah yang paling berpeluang untuk korupsi.

Friday, November 30, 2018

Kenapa Membegal Adalah Solusi untuk Mendapatkan Uang?

Setiap hari kita beraktivitas. Tidak semua aktivitas kita berada di dalam rumah. Agama pun menyuruh kita agar bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki.

Rasa malas harus terus diminimalisir. Menjadi orang yang hanya tinggal di rumah akan membuat orang menilai kita sebagai orang yang pemalas. Selain itu, ada lebih banyak penyakit yang akan datang ke tubuh seorang pemalas dibanding yang tidak malas.

Kita mau tidak mau harus berada di luar rumah. Tetapi, saat kita berada di luar rumah, di setiap langkah yang kita ambil saat menjauhi rumah, ada resiko yang kita hadapi terkait keamanan kita.

Kebutuhan kita akan rasa aman terus semakin meningkat seiring bertambah jauhnya kita dari rumah. Bagaimana pun juga resiko itu harus kita ambil untuk tetap produktif apalagi untuk mengumpulkan nafkah agar dapur keluarga terus mengepul.

Siapa sangka di luar sana, banyak yang sedang mamanfaatkan kekhawatiran kita terhadap rasa aman untuk meraup penghasilan. Para pembegal sedang berjudi dengan rasa aman yang sedang kita pertaruhkan saat pergi atau pulang dari tempat kita beraktivitas.

Saat mereka mulai menodong dengan parang panjang ke korban begal, saat itu pula transaksi jual beli rasa aman sedang terjadi. Para pembeli rasa aman harus membayar tunai di tempat secara sukarela ataupun terpaksa menggunkan barang miliknya yang sedang dibawa saat itu juga. Korban tiba-tiba saja harus membeli masa depannya sendiri yang sedang terancam keamanannya dari orang yang sama sekali tak megetahui harga dari masa depan yang sedang ditransaksikannya.

Saya sendiri menjadi sedih dan khawatir merasakan penderitaan yang terjadi di dalam tubuh kelompok-kelompok masyarakat yang berinteraksi ini. Bukan hanya untuk derita korban pembegalan, tetapi juga derita dibalik alasan pelaku begal sehingga menjadikan aktivitas begal sebagai soslusi dalam mencari penghasilan.

Seberapa besar kebutuhan yang dimiliki oleh seorang pembegal sampai harus mengancam rasa aman orang lain yang sedang dituntut untuk produktif di luar rumah?

Sebanyak apa uang yang  mereka butuhkan sehingga harus menggoreskan parang di tubuh orang lain atau sampai memutuskan lengan manusia lainnya?

Di berita dari tribun timur ini, saya membaca bahwa para pembegal melakukan bagi jatah dari hasil penjualan barang begal. Dapat 50 rb setelah lengan korban putus. Apakah sebanding?




Harga masa depan yang akan diraih oleh korban begal yang ditebas lengannya ditukar dengan pengahasilan 900rb bagi pelaku begal yang itu pun harus dibagi-bagi lagi jatahnya.

Sungguh beratnya tekanan hidup mereka. Penderitaan yang harus mereka obati dengan mencari penghasilan melalui aktivitas begal. Mereka membutuhkan perhatian kita.

Apakah mereka harus tetap menjadi pelaku begal?
Apakah mereka punya pilihan untuk tidak menjadi pelaku begal?
Apakah kita harus membeli rasa aman langsung dari preman begal, seperti halnya pedagang pasar menyetor uang keamanan ke preman pasar?
Apakah para pembegal sedang secara kasar meminta agar orang-orang yang lebih kaya agar bersedekah lebih banyak?
Apakah uang-uang para dermawan hanya bertumpuk di kotak amal mesjid?
Apakah anggaran program untuk menyejahterakan mereka hanya menumpuk di kantong pejabat dinas terkait?
Seberapa lama lagi pemerintah kita membiarkan masyarakatnya memakai cara-cara premanisme untuk mendapatkan penghasilan?

Pak Gubernur atau Bapak Kepala Dinas terkait, cobalah untuk menjawab pertanyaan saya di atas itu.

Saturday, October 27, 2018

Merawat Sumpah Pemuda, Jangan Sampai Hanya Sekedar Seremonial!



Hari ini 28 Oktober 2018 merupakan peringatan Hari Sumpah Pemuda Indonesia. Negara dan penduduk Indonesia sedang beramai-ramai mengacarakan bagaimana agar ingatan tentang sumpah pemuda ini tetap terawat.

Ada yang melakukan dengan menggelar diskusi publik, ada yang dengan nonton bareng, ada yang dengan pagelaran seni dan banyak lagi yang dengan menggunakan media sosialnya masing-masing untuk memasang kata-kata atau e-pamflet sebagai status update di hari sumpah pemuda. Semua itu mereka lakukan untuk menjemput momentum tanggal merah ini.

Tentu kita sebagai pemuda yang mencintai bangsa ini harus benar-benar memaknai peristiwa dibalik ditetapkanya sebuah simbol untuk mengingat menggunakan 1 hari libur nasional pada tanggal 28 oktober ini. Jika ada yang baru memasuki awal usia berstatus pemuda, mari kita mewajibkan diri untuk kembali membuka lembar-lembar sejarah sebagai mana negara kita mewajibkan kita mengingat peristiwa ini di setiap tanggal 28 oktober.

Tetapi saat ini seberapa banyak anak muda yang benar-benar memahami alur peristiwa sejarah itu. Beberapa anak muda dalam temu diskusi saya hanya dapat menggambarkan peristiwa ini bahwa pada tanggal yang sama sekelompok pemuda pernah mengikrarkan sumpah untuk bersatu. Beberapa lagi ada yang bisa menjelaskan bagaimana latar belakang dan peristiwa lanjutan dari sumpah pemuda itu yang kebetulan mereka memang terdaftar sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Dan beberapa lagi hanya menggambarkan hari sumpah pemuda itu sebagai hari libur nasional semata yang harus dinikmati sesenang-senangnya

Jika kita merefleksikan berbagai cara yang dilakukan kelompok-kelompok muda saat ini untuk memperingati hari ini, sebuah pertanyaan akan muncul. Apakah kita hanya akan menanamkan dan menerapkan nilai-nilai kepemudaan dalam diri dan menjadi pemuda yang bersatu untuk mencintai bangsa dan negara ini hanya pada setiap tanggal 28 oktober?

Sebenarnya saya ingin menyampaikan dan menekankan kepada kawan-kawan diskusi saya sekalian bahwa peringatan ini jangan sampai hanya dijadikan sebagai ajang seremonial dalam rangka memperpanjang ingatan kita belaka tentang kejadian di masa 90 tahun silam.

Kita sebagai manusia muda yang secara psikologis memiliki karakteristik mental yang sama dengan mereka yang pernah mengikrarkan sumpah pemuda itu harus benar-benar memaknai semangat yang ada di dalamnya, harus benar-benar menjadi anak muda yang sama seperti anak muda mengikrarkan sumpah itu. Sama dalam hal apa? Dalam hal INTEGRITAS. Kita semestinya memperkuat integritas kita untuk tetap melanjutkan sumpah itu sebagaimana mereka yang terukir dalam sejarah melakukannya hingga datangnya kemerdekaan yang dicita-citakan saat itu.

Hari ini kita banyak ditimpa krisis moral pada pemuda yang dipengaruh oleh kedatangan era globalisasi yang dilandasi oleh arus informasi yang bergerak begitu cepat yang disebabkan oleh perkembangan teknologi jaringan internet dan media komunikasi elektronik.

Arus informasi yang kini mengalir dengan kecepatan jutaan byte per detik tidak sempat dibendung oleh kemajuan daya nalar kritis yang justru semakin merosot. IQ masyarakat Indonesia dinyatakan semakin menurun beberapa poin disetiap ada pejabat pemerintah yang berbicara di depan publik. Itu kata seorang pengamat kritis bernama Rocky Gerung.

Krisis moral pada pemuda ini sangat bertentangan dengan nilai moral yang dimiliki oleh pemuda 90 tahun silam. Jika mau dibandingkan secara infrastruktur yang ada sekarang dengan yang dulu, kita bisa menggambarkan masa 90 tahun silam itu masih sangat terbelakang dan terbatas. Tetapi jika dipikir-pikir ulang, kenapa malah mereka dulu bisa begitu maju dalam berpikir dan sesemangat itu untuk memperjuangkan cita-cita bangsa. Kita semestinya jika saat ini memiliki pemikiran maju dan semangat seperti mereka, kita tentu bisa mencapai cita-cita beratus-ratus kali lipat dari mereka dengan waktu yang beratus-ratus kali lebih cepat.

Jadi kita sebaiknya memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Krisis moral itu sebaiknya kita perbaiki secepatnya. Secepat kata 'sekarang' kata 'saat ini' tanpa kata 'menunggu' tanpa kata 'nanti'. Seintens kata 'setiap saat' kata 'berkelanjutan' yang jauh dari sekedar 'seremonial', jauh dari sekedar 'momentuman'.

Bagaimana caranya memulainya? Kita mulai dengan membangun integritas diri.
Bagaimana caranya mulai berintgritas? Kita mulai dengan aktif BERLITERASI.
Mari kita rawat semangat pemuda yang pernah mengunjuk dirinya dengan bersumpah, mari kita lakukan dengan cara kita masing dengan tetap mengunjukkan integritas diri. Saat ini jua!!!


Makassar, 28 Oktober 2018
Agung Din Eka Hidayat
#Adhesivisme

Sunday, August 5, 2018

Monday, April 16, 2018

Thursday, April 12, 2018

Tuesday, April 10, 2018

Sunday, April 8, 2018

Friday, March 30, 2018

Jika Dan Hanya Jika Tak Ada Aral

Kalau tidak ada aral
Ku ingin mendapati
Kenyataan hidup
Hari esok
Mentari terbit
Lalu lalang embun
Tarikan nafas
Pejaman mata
Imajinasi lembut
Percik hasrat
Kehendak terbang
Kesatuan tawa
Lemah sapaan
Kekuatan perbedaan
Gelora teriakan
Petunjuk maju
Tanda berhenti
Isyarat mengenang
Dan .....

#Adhesivisme
Makassar, 30 Maret 2018

Thursday, March 29, 2018

Monday, March 26, 2018

Kontra 2030 BUBAR!

Jika pembacaan variabel-variabel yang mempertahankan negara oleh siapa pun itu hari ini berkata kita berujung BUBAR, setidaknya sampai pada tahun 2030 kita masih punya waktu sekurang2nya 10 tahun untuk melakukan perubahan di berbagai aspek pertahanan negara.


Sebab dari itu semangat membangun harusnya lebih terpacu.
Persoalan benar atau tidaknya ini sama saja fungsinya untuk menyentil kesadaran kita dalam bernegara.


Kita hari ini diberi target baru selain yang 2045 itu, meskipun untuk persoalan 2030 itu fiktif, tapi kita bisa terstimulus lebih realistis dalam mengahadapi keadaan hari ini.


Kita optimalkan saja bergerak dalam membangun SDM meskipun dengan langkah yang kecil-kecil.


#Adhesivisme

Saturday, February 17, 2018

Dinding Ratapan

facebook, kaulah sosok abadi utk kami meratapi nasib buruk.

kau ada di saat matahari begitu panas, saat malam begitu dingin, saat aku sangat lapar, juga saat aku sakit bahkan saat yg lainnya sedang bersenang2 tanpaku.

oh dinding facebook, kaulah sahabat sejati keluhanku. dinding ratapanku.

Wednesday, January 24, 2018

PERTEMANAN

Suara kalian masih jelas terdengar di kepalaku
Percakapan-percakapan yang tak tergantikan
Kini dipenuhi dengan makna
Penaku yang lambat tak mungkin mentranskripsinya
Mengenang semuanya bisa membuat aku tenggelam
Terbawa arus ke keadaan dimana harus kususun ulang arah gerakku
Hatiku tak terbendung menampung kekayaan rasa ini
Aku harus berselancar sekaligus menyelam
Tak ingin ku lewatkan setiap detik
Momen untuk ku nostalgiakan
Aku kini penuh dengan pengharapan untuk kembali bersama kalian
Haru suka cinta duka kita
Kita bisa melanjutkan kisah-kisah kita lagi
Dalam tali yang terus menghubungkan kita
Pertemanan

Makassar, 24 Januari 2017

Wednesday, December 6, 2017

Tentang Hujan

Apalah hujan ini...
Waktu sepi dibasahkan rindu
Bila lamun dibanjirkan kenangan
Kala senang digenangkan kekanak-kanakan.
Macam zat pembolak-balik jiwa saja... 

#KuisAK

(Dipublikasi dalam kolom komentar Facebook Anis Kurniawan)