Friday, November 30, 2018

Kenapa Membegal Adalah Solusi untuk Mendapatkan Uang?

Setiap hari kita beraktivitas. Tidak semua aktivitas kita berada di dalam rumah. Agama pun menyuruh kita agar bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki.

Rasa malas harus terus diminimalisir. Menjadi orang yang hanya tinggal di rumah akan membuat orang menilai kita sebagai orang yang pemalas. Selain itu, ada lebih banyak penyakit yang akan datang ke tubuh seorang pemalas dibanding yang tidak malas.

Kita mau tidak mau harus berada di luar rumah. Tetapi, saat kita berada di luar rumah, di setiap langkah yang kita ambil saat menjauhi rumah, ada resiko yang kita hadapi terkait keamanan kita.

Kebutuhan kita akan rasa aman terus semakin meningkat seiring bertambah jauhnya kita dari rumah. Bagaimana pun juga resiko itu harus kita ambil untuk tetap produktif apalagi untuk mengumpulkan nafkah agar dapur keluarga terus mengepul.

Siapa sangka di luar sana, banyak yang sedang mamanfaatkan kekhawatiran kita terhadap rasa aman untuk meraup penghasilan. Para pembegal sedang berjudi dengan rasa aman yang sedang kita pertaruhkan saat pergi atau pulang dari tempat kita beraktivitas.

Saat mereka mulai menodong dengan parang panjang ke korban begal, saat itu pula transaksi jual beli rasa aman sedang terjadi. Para pembeli rasa aman harus membayar tunai di tempat secara sukarela ataupun terpaksa menggunkan barang miliknya yang sedang dibawa saat itu juga. Korban tiba-tiba saja harus membeli masa depannya sendiri yang sedang terancam keamanannya dari orang yang sama sekali tak megetahui harga dari masa depan yang sedang ditransaksikannya.

Saya sendiri menjadi sedih dan khawatir merasakan penderitaan yang terjadi di dalam tubuh kelompok-kelompok masyarakat yang berinteraksi ini. Bukan hanya untuk derita korban pembegalan, tetapi juga derita dibalik alasan pelaku begal sehingga menjadikan aktivitas begal sebagai soslusi dalam mencari penghasilan.

Seberapa besar kebutuhan yang dimiliki oleh seorang pembegal sampai harus mengancam rasa aman orang lain yang sedang dituntut untuk produktif di luar rumah?

Sebanyak apa uang yang  mereka butuhkan sehingga harus menggoreskan parang di tubuh orang lain atau sampai memutuskan lengan manusia lainnya?

Di berita dari tribun timur ini, saya membaca bahwa para pembegal melakukan bagi jatah dari hasil penjualan barang begal. Dapat 50 rb setelah lengan korban putus. Apakah sebanding?




Harga masa depan yang akan diraih oleh korban begal yang ditebas lengannya ditukar dengan pengahasilan 900rb bagi pelaku begal yang itu pun harus dibagi-bagi lagi jatahnya.

Sungguh beratnya tekanan hidup mereka. Penderitaan yang harus mereka obati dengan mencari penghasilan melalui aktivitas begal. Mereka membutuhkan perhatian kita.

Apakah mereka harus tetap menjadi pelaku begal?
Apakah mereka punya pilihan untuk tidak menjadi pelaku begal?
Apakah kita harus membeli rasa aman langsung dari preman begal, seperti halnya pedagang pasar menyetor uang keamanan ke preman pasar?
Apakah para pembegal sedang secara kasar meminta agar orang-orang yang lebih kaya agar bersedekah lebih banyak?
Apakah uang-uang para dermawan hanya bertumpuk di kotak amal mesjid?
Apakah anggaran program untuk menyejahterakan mereka hanya menumpuk di kantong pejabat dinas terkait?
Seberapa lama lagi pemerintah kita membiarkan masyarakatnya memakai cara-cara premanisme untuk mendapatkan penghasilan?

Pak Gubernur atau Bapak Kepala Dinas terkait, cobalah untuk menjawab pertanyaan saya di atas itu.