Setiap hari kita
beraktivitas. Tidak semua aktivitas kita berada di dalam rumah. Agama pun
menyuruh kita agar bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki.
Rasa malas harus
terus diminimalisir. Menjadi orang yang hanya tinggal di rumah akan membuat
orang menilai kita sebagai orang yang pemalas. Selain itu, ada lebih banyak
penyakit yang akan datang ke tubuh seorang pemalas dibanding yang tidak malas.
Kita mau tidak mau
harus berada di luar rumah. Tetapi, saat kita berada di luar rumah, di setiap
langkah yang kita ambil saat menjauhi rumah, ada resiko yang kita hadapi
terkait keamanan kita.
Kebutuhan kita akan
rasa aman terus semakin meningkat seiring bertambah jauhnya kita dari rumah.
Bagaimana pun juga resiko itu harus kita ambil untuk tetap produktif apalagi
untuk mengumpulkan nafkah agar dapur keluarga terus mengepul.
Siapa sangka di
luar sana, banyak yang sedang mamanfaatkan kekhawatiran kita terhadap rasa aman
untuk meraup penghasilan. Para pembegal sedang berjudi dengan rasa aman yang
sedang kita pertaruhkan saat pergi atau pulang dari tempat kita beraktivitas.
Saat mereka mulai menodong dengan parang panjang ke korban begal, saat itu pula transaksi jual beli rasa aman sedang terjadi. Para pembeli rasa aman harus membayar tunai di tempat secara sukarela ataupun terpaksa menggunkan barang miliknya yang sedang dibawa saat itu juga. Korban tiba-tiba saja harus membeli masa depannya sendiri yang sedang terancam keamanannya dari orang yang sama sekali tak megetahui harga dari masa depan yang sedang ditransaksikannya.
Saat mereka mulai menodong dengan parang panjang ke korban begal, saat itu pula transaksi jual beli rasa aman sedang terjadi. Para pembeli rasa aman harus membayar tunai di tempat secara sukarela ataupun terpaksa menggunkan barang miliknya yang sedang dibawa saat itu juga. Korban tiba-tiba saja harus membeli masa depannya sendiri yang sedang terancam keamanannya dari orang yang sama sekali tak megetahui harga dari masa depan yang sedang ditransaksikannya.
Saya sendiri
menjadi sedih dan khawatir merasakan penderitaan yang terjadi di dalam tubuh
kelompok-kelompok masyarakat yang berinteraksi ini. Bukan hanya untuk derita korban pembegalan,
tetapi juga derita dibalik alasan pelaku begal sehingga menjadikan aktivitas
begal sebagai soslusi dalam mencari penghasilan.
Seberapa besar
kebutuhan yang dimiliki oleh seorang pembegal sampai harus mengancam rasa aman
orang lain yang sedang dituntut untuk produktif di luar rumah?
Sebanyak apa uang
yang mereka butuhkan sehingga harus
menggoreskan parang di tubuh orang lain atau sampai memutuskan lengan manusia
lainnya?
Di berita dari
tribun timur ini, saya membaca bahwa para pembegal melakukan bagi jatah dari
hasil penjualan barang begal. Dapat 50 rb setelah lengan korban putus. Apakah
sebanding?
Harga masa depan
yang akan diraih oleh korban begal yang ditebas lengannya ditukar dengan
pengahasilan 900rb bagi pelaku begal yang itu pun harus dibagi-bagi lagi
jatahnya.
Sungguh beratnya
tekanan hidup mereka. Penderitaan yang harus mereka obati dengan mencari
penghasilan melalui aktivitas begal. Mereka membutuhkan perhatian kita.
Apakah mereka harus
tetap menjadi pelaku begal?
Apakah mereka punya
pilihan untuk tidak menjadi pelaku begal?
Apakah kita harus
membeli rasa aman langsung dari preman begal, seperti halnya pedagang pasar
menyetor uang keamanan ke preman pasar?
Apakah para
pembegal sedang secara kasar meminta agar orang-orang yang lebih kaya agar
bersedekah lebih banyak?
Apakah uang-uang
para dermawan hanya bertumpuk di kotak amal mesjid?
Apakah anggaran
program untuk menyejahterakan mereka hanya menumpuk di kantong pejabat dinas
terkait?
Seberapa lama lagi
pemerintah kita membiarkan masyarakatnya memakai cara-cara premanisme untuk
mendapatkan penghasilan?
Pak Gubernur atau
Bapak Kepala Dinas terkait, cobalah untuk menjawab pertanyaan saya di atas itu.

0 Comments:
Post a Comment