Wednesday, October 11, 2017

UNM Berpolitik Ke Siapa?




Sudah semakin dekat kita dengan agenda demokrasi terbesar se Sulawesi Selatan. Para peserta pilgub pun telah beramai-ramai menyebarluaskan alat peraga kampanye masing-masing di berbagai penjuru pelosok sulsel. Mulai dari pemasangan baliho, spanduk, reklame, bendera dll. Secara massif dan menyeluruh di setiap kabupaten di sulawesi selatan.


Namun ada hal yang mengganjal di mataku melihat salah satu konten peraga kampanye pasangan IYL-Cakka . Ini terlihat mengherankan karena kutemuai ada wajah gedung phinisi di latar baliho pasangan peserta pilgub ini. Apakah hal ini telah dibicarakan sebelumnya oleh juru kampanye kepada pihak kampus UNM? Apakah telah ada kesepakatan kedua belah pihak untuk saling mendapatkan keuntungan? Atau ini suatu tindakan pragmatis secara ceroboh yang dilakukan oleh juru kampanye dan melanggar aturan-aturan yang berlaku?


Beberapa teman-teman, masyarakat bahkan juru kampanye pasangan IYL-Cakka mungkin menganggap ini sebagai suatu hal yang wajar dilakukan dalam dunia persilatan kampanye politik. Entahlah bagaimana kalau dari birokarasi UNM? Tapi seperti biasa bagi setiap juru kampanye, memang harus mengunakan segala strategi dan taktik untuk memenangkan paslon yang diandalkannya. Maka disitulah seni berpolitik itu bermain.


Namun bagiku, ini tetaplah mengganjal di benakku. Aku pikir pemasangan ikon UNM yaitu Gedung Phinisi itu tidak sepatutnya dijadikan latar dalam alat peraga kampanye pasangan IYL-Cakka atau paslon siapapun itu. apalagi di disitu tertera ada Logo UNM juga. Di sisi lain ini juga sangat syarat akan politik pencitraan dan pemecah belah suara jaringan alumnus UNM yang semakin solid.


Penggunaan Logo UNM tidak pada tempatnya

Meskipun Gedung Phinisi kini dianggap sebagai ikon sulawesi selatan tapi sebuah pemikiran yang sempit jika berpikir gedung phinisi hanyalah satu-satunya ikon sulsel karena masih banyak yang lain juga seperti; gambar pulau sulwesi, rumah toraja, huruf lontara, bahkan perahu phinisi yang sudah dikenal di mancanegara sebagai identitas bugis makassar.  Semua itu bisa dijadikan pilihan-pilihan alternatif apalagi lebih bermakna kedaerahan dan kebudayaan dibandingkan hanya memasang citra Gedung Phinisi yang disitu juga tertera logo UNM yang belum tentu sesuai tata etika penggunaan logo instansi negara. Ikhlas tidak penghuni UNM kalau dicitrakan bahwa berada dibelakang paslon IYL-Cakka? Sesuai persepsi yang terkonstruk melihat baliho itu. Hehe

Pasal 2 UU Hak Cipta
(1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.

Ini bisa saja dianggap melanggar aturan UU Hak Cipta jika memang benar pihak UNM tidak pernah memberikan persetujuaan atas penggunaan logo UNM tersebut. Namun entahlah jika di belakang layar Gedung Phinisi memang sudah ada perjanjian yang saling menguntungkan atas penggunaan logo pada alat peraga kampanye itu. Hal ini perlu kita  tanyakan langsung untuk pastinya. (:


Politik pencitraan keberpihakan kampus ternama UNM

Tercantumnya citra Gedung Phinisi disini menciptakan persepsi bahwa di belakang gerakan suksesi paslon IYL-Cakka terdapat dukungan atau bekingan dari kampus ternama dengan jaringan alumni yang solid untuk memenangkannya dalam pilgub ini. Namun apakah kenyataannya benar seperti yang telah dicitrakan?

Jika memang benar itu bahwa ada keberpihakan politik secara sengaja dan terang-terangan dari kampus UNM kita yang tercinta ini, maka inilah bukti nyata politik praktis di dunia pendidikan yang sudah sangat jauh lagi dari sifat hakikinya. Ini sangat saya sayangkan dan sangat menjatuhkan kebanggan saya sebagai keluarga almamater orange. Padahal saya ingat bahwa Meristekdikti pernah bilang kalau kampus jangan dijadikan tempat berpolitik pada Pertemuan Rektor dan Wakil Rektor LPTK Negeri se-Indonesia, di Medan, Sabtu (20/5/2017) yang saat itu UNM juga turuh hadir. Saya takutnya gelar akreditasi "A" kita diambil lagi olehnya. Ya kan?


Pemecah suara pemilih jaringan alumni UNM

Kita semua tahu salah satu kandidat cagub (bukan IYL ya!) pada pilgub kali ini merupakan tokoh besar alumni UNM. Kita sekarang menyadari kalau latar belakang almamater kampus itu sangat berpengaruh pada dukungan suara untuk memenangkan suatu pemilihan umum. Kekuatan jaringan alumni yang solid akan menjadi motor tersendiri untuk memperkuat gerakan  pemenangan suatu calon pemimpin.

Kita ambil contoh solidaritas alumnus kampus-kampus besar dan ternama seperti UI atau untuk di SULSEL sendiri itu UNHAS. Persatuan alumni mereka sangat kuat dan saling mendukung. Ini menjadi sebuah jawaban kenapa kebanyakan pemimpin pemimpin yang terpilih dari putra daerah SULSEL itu rata-rata alumni UNHAS. Ya ini karena persatuan mereka yang kuat untuk saling mengangkat dan mendukung. Karena jika salah satu dari alumni mereka terangkat, tentu kemajuan almamaternya pun akan ikut terangkat. IYL sendiri pun berasal dari almamater UNHAS. Pak JK sendiri untuk persoalan ini tidak usah dipertanyakan lagi, ya kan?

Nah kita yang tidak lupa dengan almamater sendiri itu tidak boleh ketinggalan jauh. Kita harus mulai solid dan bersatu. Karena saya yakin ini menjadi suatu kekuatan besar SULSEL kalau para almuni-alumni alamater orange solid dan saling mendukung karena saya mengalaminya sendiri bahkan banyak melihat orang-orang yang ditempa di kampus orange ini sudah melewati latihan yang keras dan proses yang begitu berdinamika sebelum pada akhrnya dinyatakan sebagai alumni UNM. Wajar saja kalau salah satu paslon pilgub begitu ingin mengklaim dukungan dari kampus kita. Sudihkah? hehe


Ya saya menuliskan ini dalam perspektif saya sendiri dengan segenap semangat yang saya memiliki. Seperti kata bang Tere Liye, dalam bukunya Negeri Di Ujung Tanduk: “Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan.” 


Jadi, saya menganggap pemasangan citra Gedung Phinisi yang tertera logo UNM pada latar alat peraga kampanye IYL-Cakka perlu mendapatkan perhatian khusus dan sikap dari Birokrasi UNM supaya kita warga UNM tidak gelisah dan mendapatkan kejelasan serta bisa membersihkan hal yang mengganjal dalam diri kami dalam mencintai almamater kita UNM ini. ^^

0 Comments:

Post a Comment