Hari ini 28 Oktober
2018 merupakan peringatan Hari Sumpah Pemuda Indonesia. Negara dan penduduk
Indonesia sedang beramai-ramai mengacarakan bagaimana agar ingatan tentang
sumpah pemuda ini tetap terawat.
Ada yang melakukan
dengan menggelar diskusi publik, ada yang dengan nonton bareng, ada yang dengan
pagelaran seni dan banyak lagi yang dengan menggunakan media sosialnya
masing-masing untuk memasang kata-kata atau e-pamflet sebagai status update di
hari sumpah pemuda. Semua itu mereka lakukan untuk menjemput momentum tanggal
merah ini.
Tentu kita sebagai
pemuda yang mencintai bangsa ini harus benar-benar memaknai peristiwa dibalik
ditetapkanya sebuah simbol untuk mengingat menggunakan 1 hari libur nasional
pada tanggal 28 oktober ini. Jika ada yang baru memasuki awal usia berstatus
pemuda, mari kita mewajibkan diri untuk kembali membuka lembar-lembar sejarah
sebagai mana negara kita mewajibkan kita mengingat peristiwa ini di setiap
tanggal 28 oktober.
Tetapi saat ini
seberapa banyak anak muda yang benar-benar memahami alur peristiwa sejarah itu.
Beberapa anak muda dalam temu diskusi saya hanya dapat menggambarkan peristiwa
ini bahwa pada tanggal yang sama sekelompok pemuda pernah mengikrarkan sumpah untuk
bersatu. Beberapa lagi ada yang bisa menjelaskan bagaimana latar belakang dan
peristiwa lanjutan dari sumpah pemuda itu yang kebetulan mereka memang
terdaftar sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Dan beberapa lagi hanya
menggambarkan hari sumpah pemuda itu sebagai hari libur nasional semata yang
harus dinikmati sesenang-senangnya
Jika kita
merefleksikan berbagai cara yang dilakukan kelompok-kelompok muda saat ini
untuk memperingati hari ini, sebuah pertanyaan akan muncul. Apakah kita hanya
akan menanamkan dan menerapkan nilai-nilai kepemudaan dalam diri dan menjadi
pemuda yang bersatu untuk mencintai bangsa dan negara ini hanya pada setiap
tanggal 28 oktober?
Sebenarnya saya
ingin menyampaikan dan menekankan kepada kawan-kawan diskusi saya sekalian
bahwa peringatan ini jangan sampai hanya dijadikan sebagai ajang seremonial
dalam rangka memperpanjang ingatan kita belaka tentang kejadian di masa 90
tahun silam.
Kita sebagai
manusia muda yang secara psikologis memiliki karakteristik mental yang sama
dengan mereka yang pernah mengikrarkan sumpah pemuda itu harus benar-benar
memaknai semangat yang ada di dalamnya, harus benar-benar menjadi anak muda
yang sama seperti anak muda mengikrarkan sumpah itu. Sama dalam hal apa? Dalam
hal INTEGRITAS. Kita semestinya memperkuat integritas kita untuk tetap
melanjutkan sumpah itu sebagaimana mereka yang terukir dalam sejarah
melakukannya hingga datangnya kemerdekaan yang dicita-citakan saat itu.
Hari ini kita
banyak ditimpa krisis moral pada pemuda yang dipengaruh oleh kedatangan era
globalisasi yang dilandasi oleh arus informasi yang bergerak begitu cepat yang
disebabkan oleh perkembangan teknologi jaringan internet dan media komunikasi
elektronik.
Arus informasi yang
kini mengalir dengan kecepatan jutaan byte per detik tidak sempat dibendung
oleh kemajuan daya nalar kritis yang justru semakin merosot. IQ masyarakat
Indonesia dinyatakan semakin menurun beberapa poin disetiap ada pejabat
pemerintah yang berbicara di depan publik. Itu kata seorang pengamat kritis
bernama Rocky Gerung.
Krisis moral pada
pemuda ini sangat bertentangan dengan nilai moral yang dimiliki oleh pemuda 90
tahun silam. Jika mau dibandingkan secara infrastruktur yang ada sekarang
dengan yang dulu, kita bisa menggambarkan masa 90 tahun silam itu masih sangat
terbelakang dan terbatas. Tetapi jika dipikir-pikir ulang, kenapa malah mereka
dulu bisa begitu maju dalam berpikir dan sesemangat itu untuk memperjuangkan
cita-cita bangsa. Kita semestinya jika saat ini memiliki pemikiran maju dan
semangat seperti mereka, kita tentu bisa mencapai cita-cita beratus-ratus kali
lipat dari mereka dengan waktu yang beratus-ratus kali lebih cepat.
Jadi kita sebaiknya
memperbaiki apa yang harus diperbaiki. Krisis moral itu sebaiknya kita perbaiki
secepatnya. Secepat kata 'sekarang' kata 'saat ini' tanpa kata 'menunggu' tanpa
kata 'nanti'. Seintens kata 'setiap saat' kata 'berkelanjutan' yang jauh dari
sekedar 'seremonial', jauh dari sekedar 'momentuman'.
Bagaimana caranya
memulainya? Kita mulai dengan membangun integritas diri.
Bagaimana caranya
mulai berintgritas? Kita mulai dengan aktif BERLITERASI.
Mari kita rawat
semangat pemuda yang pernah mengunjuk dirinya dengan bersumpah, mari kita
lakukan dengan cara kita masing dengan tetap mengunjukkan integritas diri. Saat
ini jua!!!
Makassar, 28 Oktober 2018
Agung Din Eka Hidayat
#Adhesivisme

0 Comments:
Post a Comment